INILAH.COM, Jakarta – Para ilmuwan di University of Montreal mencari laki-laki yang belum pernah sekalipun melihat pornografi sebelumnya dan mereka tidak bisa menemukan seorangpun.
Para peneliti melakukan penelitian dengan membandingkan pandangan laki-laki berusia 20-an yang tidak pernah terpapar pornografi dengan pengguna biasa.
Namun proyek mereka tersandung pada rintangan pertama, ketika mereka gagal untuk menemukan satu orang pun yang belum pernah melihatnya.
“Kami mulai penelitian dengan mencari pria berusia 20-an yang tidak pernah mengkonsumsi pornografi,” kata Profesor Simon Louis Lajeunesse. “Kami tidak dapat menemukan seorang pun.”
Meskipun terhambat dalam tujuan aslinya, studi itu tetap meneliti kebiasaan orang-orang muda yang menggunakan pornografi, yang tampak berhubungan dengan semua.
Prof Lajeunesse mewawancarai 20 mahasiswa laki-laki heteroseksual yang mengkonsumsi pornografi, dan menemukan rata-rata mereka pertama kali melihat pornografi ketika 10 tahun.
Sekitar 90 persen mengkonsumsi di internet, sementara 10 persen mendapat materi dari toko video.
Pria lajang menonton pornografi untuk rata-rata 40 menit tiga kali seminggu, sementara yang memiliki pasangan menontonnya 1,7 kali seminggu selama sekitar 20 menit.
Studi ini menemukan bahwa pria menonton pornografi yang cocok dengan seksualitas yang dicitrakan sendiri, dan dengan cepat membuang materi kekerasan atau menjijikkan.
Prof Lajeunesse mengatakan pornografi tidak mempunyai efek negatif pada seksualitas laki-laki.
“Tidak ada satupun subyek yang memiliki patologi seksualitas,” katanya. “Bahkan, semua praktek-praktek seksual mereka cukup konvensional.
“Pornografi tidak merubah persepsi mereka pada perempuan atau hubungan mereka, yang mereka semua ingin sebisa mungkin harmonis dan memuaskan,” ia menambahkan.[ito]
JERMAN, KOMPAS.com – Tampaknya, VW dan grupnya akan menjadi pabrik mobil terbesar di dunia pada 2018. Indikasi itu sudah mulai diperlihatkan dengan keberhasilannya menggeser posisi Toyota Motor Corp (TMC) dalam memproduksi kendaraan tahun ini.
Pabrikan mobil Jerman itu melaporkan bahwa VW Group dalam sembilan bulan pertama tahun ini telah memproduksi 4,4 juta unit. Sementara Toyota tercatat 4,0 unit. Naiknnya VW ke peringkat teratas karena didukung model-model yang ditampilkan bisa diterima konsumennya.
Faktor utamanya, adanya program pemerintah yang memberi subsidi bagi pemilik mobil lama yang mau menggantikan dengan mobil baru. Program tersebut dimulai 2008 dan Jerman menjadi pelopornya.
Sekalipun ada program dari pemerintah Jerman yang ikut mendukung industri otomotif dengan kendaraan ramah lingkungan, VW tidak menyia-nyiakannya. Bahkan pasar Jerman tumbuh 26,1 persen saat registrasi Oktober, meski sokongan pemerintah dalam bentuk subsidi berakhir September lalu.
Pantas, jika penjualan VW tahun ini naik 34 persen dengan total penjualan 622.853 unit. Paling signifikan dicatat oleh Skoda dengan model Fabia mencatat kenaikan sampai 92,4 persen, sebaik dengan Octavia yang naik 20,4 persen. Tinggal kita lihat dua bulan mendatang bisa VW mempertahankan prestasinya yang tanpa ada program pemerintah.
Selain VW, Ford juga berhasil melampui GM sebagai pabrik terbesar ketiga dalam memproduksi mobil. Dilaporkan, Ford telah memproduksi 3,7 unit dan hanya unggul 100.000 unit sama GM dalam sembilan bulan pertama 2009.
Tags: Automotive, Toyota, VW