
Kemudahan untuk mengakses dunia maya – dengan identitas yang gampang disembunyikan, membuat siapa saja berpotensi besar untuk menjadi kriminal, dan bertindak sesuka hati.
Apabila diklasifikasi berdasarkan tindak kejahatannya, maka para cyber criminal ini bisa dikelompokkan menjadi 10 jenis, seperti disebutkan di bawah ini.
1. Penulis Malware
Ini adalah orang-orang yang menulis dan mendistribusikan virus dan worm, trojan dan berbagai jenis malware, produk buruk digital. Mereka memaksa orang-orang dan dunia bisnis untuk menghabiskan sejumlah besar uang untuk membeli teknologi anti-malware yang telah merampok sistem kekuasaan dan kinerja. Para pencipta Malware adalah benar-benar sampah masyarakat.
2. Phishers
Tiba-tiba rekening bank anda bisa berakhir masa lakunya dan anda harus segera membaharui informasinya, tetapi tidak benar-benar terjadi, karena sesungguhnya hanyalah usaha para phisher untuk mencuri informasi pribadi anda, identitas anda, dengan mengarahkan anda kepada suatu situs web tertentu. Grup Pekerja Anti-Phishingorking Group, sebuah asosiasi institusi pengecer dan lembaga keuangan sedang memfokuskan pada penghapusan Web berbasis penipuan, dikatakan telah ditemukan sekitar 20.000 hingga 30.000 situs web phishing yang unik setiap bulannya.
3. Hoaxsters
Seringkah anda mendapatkan e-mail dari Nigeria akhir-akhir ini? Atau sebuah “pesan mendesak” dari seorang bangsawan Inggris? Sebuah penawaran pekerjaan dari luar negeri, barangkali? Di dalam semua kasus, anda mungkin berhadapan dengan beberapa bentuk perjanjian transfer dana. Tetapi, seperti pengalaman banyak orang, satu-satunya uang yang pernah ditransfer di dalam kasus ini adalah dari korban ke hoaxster-nya.
4. Scammers
Kotak masuk (inbox) e-mail milik anda mungkin penuh dengan pekerjaan tangan dari scammers, berupa penawaran diskon farmasi, time-shares (sejenis penggunaan bersama atas harta, seperti rumah untuk berlibur), makanan sehat, peralatan-peralatan dan semacamnya. Ketika anda mengirimkan nomor kartu kredit anda kepada orang-orang ini – atau yang lebih buruk lagi, tunai – anda hanya akan menerima perasaan tertekan sebagai balasannya.
5. Renternir Online
Adakah badan peminjam yang tidak membutuhkan jaminan dan verifikasi pendapatan? Itulah renternir online. Tidak seperti scammers, renternir online berjanji akan mengirimkan uangnya kepada anda. Namun sebelumnya bandit cyber itu akan meminta pembayaran di muka untuk “biaya proses aplikasi”, dan sialnya, itu adalah satu-satunya proses pengiriman uang yang terjadi, tidak ada proses sebaliknya.
6. Spammers
Orang-orang ini dikatakan jahat dalam pengertian bahwa mereka mencuri waktu anda. Tidak seperti phishers, hoaxsters dan para peleceh dengan e-mail lainnya yang berniat memisahkan anda dari informasi atau uang anda, spammers membanjiri kotak masuk e-mail anda dengan iklan-iklan – produk legal dan tidak legal, kecaman politis, lelucon-lelucon, dan berbagai bualan lainnya. Spammers bukanlah penjahat dunia maya yang berbahaya, namun yang pasti sangat mengganggu. Spammers juga berimplikasi terhadap biaya keuangan perusahaan, baik karena meningkatnya pemakaian bandwidth dan memaksa penyedia-penyedia layanan, perusahaan dan para pengguna individual untuk menginstal teknologi anti spam – yang selalu tidak sempurna – secara lebih sering dan mahal.
7. Lelang Fraudsters
Anda pasti sangat senang ketika berhasil memenangkan sebuah arloji emas di eBay. Perasaan senang dan bahagia anda akhirnya anjlok, bagaimana tidak, ketika jam tangan itu tiba di tangan anda. Arloji tersebut terlihat dengan susah dimiripkan dengan gambar onlinenya. Tapi untungnya anda menerima sesuatu, dibanding dengan banyak korban lelang fraudsters yang tidak menerima apa pun.
8. Penyelenggara Hadiah Palsu
“Selamat, anda sudah memenangkan Fredonia National Lottery”. Semua orang tampak benar-benar menang, tentu saja, adalah sebuah kebetulan kalau “penyelenggara lotere” melibatkan anda dalam proses yang kompleks disertai pembayaran di muka dan cek-cek palsu.
9. Pembajak Media
Kenapa harus membeli yang asli jika anda bisa mendapatkan lagu atau video dari layanan file-sharing? Tidak ada orang yang dilukai, ya khan? Memang, tidak ada yang terluka, tetapi orang-orang yang bekerja keras untuk mencipta karya, hati mereka pasti terluka.
10. Parasit Sosial
Situs jejaring sosial, jaringan pesan instan, layanan kencan online dan berbagai web yang dipenuhi oleh mereka yang diklasifikasikan sebagai orang-orang yang menyatakan dirinya sebagai orang lain. Sebagian dari target adalah orang-orang berkarakter lemah dan naif untuk ditipu agar mengeluarkan uang. Parasit-parasit lain memainkan peran sebagai selebritis, dengan maksud mencoreng reputasi mereka atau mendapatkan sedikit kepopuleran. Di dalam kasus manapun, parasit-parasit sosial adalah teror bagi masyarakat internet.
![]()
VIVAnews – Penumpang Bus Bianglala 44 jurusan Ciledug – Senen berhamburan turun dari bus setelah melihat sang sopir diperkirakan orang gila. Sang supir pun tertangkap tangan membawa ganja.
Seperti dikutip dari laman Direktorat Lalu Lintas Polda Metro Jaya, Sabtu 17 Oktober 2009, peristiwa itu diketahui polisi saat bus melintas di depan Hotel Sultan, Jakarta pukul 12.00 WIB.
“Kata penumpang supir itu hasi pergantian dari sopir asli. “Nopol bus Bianglala B 7014 IW,” kata petugas polisi, Inspektur Satu Kasiman.
Sopir yang diduga gila itu duduk di dalam bus dan tidak mau turun dari kursinya. Polisi terpaksa menderek bus tersebut ke Polda Metro Jaya. Saat diperiksa, sopir kedapatan membawa ganja.

Tidak hanya melawan agama, aborsi juga sangat membahayakan hidup kaum wnita. Kantor berita AP melaporkan, hasil penelitian mengungkapkan bahwa selama ini, sedikitnya 70 ribu wanita yang menjalani aborsi tewas setiap tahun. Sekitar 38 ribu wanita korban aborsi di antaranya berasal dari sub-sahara Afrika.
Riset tersebut dihelat oleh lembaga bernama Guttmacher Institute yang berbasis di New York. Selama ini, institut tersebut dikenal sebagai pendukung kuat aborsi dan penyedia data-data mengenai kecenderungan perilaku tersebut. Data mengenai korban aborsi ini dikumpulkan dari berbagai negara dan organisasi multinasional.
Presiden Guttmacher Institute, Sharon Camp, mengatakan bahwa bahwa selama ini, aborsi hanya dijalankan di negara-negara maju. “Di kebanyakan negara berkembang aborsi sangat dilarang dan seringkali dijalankan dengan cara yang membahayakan,” tutur dia. Kenyataan tersebut, diyakininya, sebagai penyebab utama terjadinya kematian dalam aborsi.
Saat ini, Guttmacher juga memperkirakan bahwa jumlah kasus aborsi di seluruh dunia turun dari sekitar 45,5 juta di tahun 1995 menjadi 41,6 juta di tahun 2003. Penurunan ini, menurut dia, tidak hanya terjadi di negara konervatif, tapi juga berlangsung di negara-negara liberal. Tiga negara yang dinilainya sangat kuat melarang aborsi adalah Polandia, Nicaragua, dan Elsalvador. Riset tersebut juga melaporkan bahwa sekitar 19 juta praktik aborsi di tahun 2003, dijalankan tidak aman.