
Malam penganugerahan hadiah Nobel 2009 diserahkan Raja Swedia, Carl Gustaf XVI, di Stockholm, Swedia, Kamis (10/12) waktu setempat. Lima perempuan dan delapan laki-laki dari sejumlah negara yang dianggap berjasa dalam bidang masing-masing secara resmi dianugerahi Nobel.
Nobel bidang kimia jatuh pada tiga peneliti biologi, yaitu dua ilmuwan Amerika Serikat Venkatraman Ramakrishnan dan Thomas Steitz serta ilmuwan Israel Ada Yonath yang melakukan penelitian tentang ribosom secara terpisah. Ribosom berperan dalam menciptakan protein dalam sel tubuh.
Di bidang kedokteran, Nobel diberikan pada tiga ilmuwan AS, dua di antaranya perempuan Elizabeth H Blackburn, Carol W Greider, dan Jack W Szostak yang penemuannya memberi titik terang bagi proses penuaan dan juga terapi kanker. Sedangkan Nobel kesusastraan menjadi milik penulis Eropa, Herta Mueller. Penulis Jerman kelahiran Rumania ini mengisahkan hidupnya saat di balik tirai besi.
Sementara ilmuwan AS Elonor Ostrom menjadi wanita pertama yang meraih Nobel ekonomi atas analisisnya terhadap tata kelola ekonomi. Ia berbagi Nobel bersama Oliver Williamson.
Di bidang fisika, Nobel diberikan pada ilmuwan AS, Charles K Kao, Willard S Boyle dan George E Smith. Berkat temuan mereka pintu era kamera digital terbuka, yaitu sensor yang mampu mengubah cahaya menjadi sinyal elektrik.
Selain menerima medali emas dan piagam, para penerima Nobel juga akan mendapat hadiah uang sebesar sepuluh juta kronor atau sekitar Rp 14 miliar.Wow!
Untuk Nobel perdamaian, penganugerahan dilakukan di Oslo, Norwegia sehari sebelumnya. Barack Obama menjadi Presiden AS ketiga dalam kurun waktu 90 tahun yang menerima hadiah Nobel perdamaian setelah Theodore Roosevelt dan Woodrow Wilson.

Presiden Barack Obama dan Istri Michelle Tiba di Grand Hotel , Oslo sebelum menandatangani Nobel Perdamaian

Barack dan Michelle Obama berbincang bersama King Harald V of Norway dan Komite Nobel Thorbjorn Jagland di Oslo

Obama dan Istri jalan menghadiri acara ceremonial Nobel perdamaian

Obama menandatangani nobel perdamaian

Obama dan Istri foto bersama King Harald V of Norway dan Komite Nobel Thorbjorn Jagland di Oslo

Patung Obama di Taman Menteng, Jakarta
Tags: Inspirational, International

Harta kekayaan dipergunakan untuk membantu. Tiada satu pun manusia di dunia ini yang tidak membutuhkan uang, tetapi harus tidak bisa tersesatkan oleh harta. Jika semata-mata mempertahankan kekikiran, satu sen pun tidak rela untuk didermakan, maka meskipun bisa menumpuk harta banyak setinggi gunung, dirinya sendiri juga tidak bisa mempunyai keberuntungan untuk menikmati.
Orang dulu berkata, “Jika kikir akan harta serta menyayangi pusaka, puluhan ribu dewa pun tidak akan bersedia datang.” Apalagi harta kekayaan merupakan materi di luar tubuh, lahir tidak dibawa serta, mati pun tidak bisa dibawa pergi.
Saya pernah menjumpai seorang pasien yang sangat menyayangi rumahnya bagai nyawanya sendiri, penyakitnya sudah tidak bisa ditolong lagi, masih tetap menjaga rumahnya itu bagaikan budak, hingga dia mencapai ajalnya.
Jack membeli sebuah rumah besar, yang memiliki pemandangan sangat indah, rumah itu dibangun pada dataran yang sangat curam dan berbahaya. Dia menggunakan segala cara yang mungkin dilakukan untuk mempertahankan kekokohan rumah itu, yang sebenarnya sangat berisiko tertimpa longsoran.
Suatu hari, cuaca sangat tidak bersahabat, setiap hari turun hujan, sebentar hujan lebat sebentar lagi hujan rintik-rintik. Apabila tanah di atas bukit itu longsor terkena hujan, akibatnya jadi sangat fatal.
Melihat kondisi ini, ada orang yang sengaja suka mengejar sensasi, lantas memasang dua hingga tiga kamera yang diarahkan pada rumah yang berisiko itu. Menunggu saat adegan berbahaya itu tiba dan terekam kamera. Salah satu dari orang-orang itu ialah seorang tamu yang pernah diusir Jack dari rumah itu. Dengan perasaan tak sabar ia menanti melihat nasib buruk menimpa Jack.
Jack telah menghemat uangnya satu sen demi satu sen, yang akhirnya terkumpul uang yang hanya cukup untuk membayar uang muka rumah itu, dia juga menghemat pengeluaran yang tidak perlu untuk membayar bunga pinjamannya.
Setiap kali dia akan menguntit tamu-tamunya untuk mematikan lampu toilet yang lupa dimatikan. Dia juga sering kali menyantap makanan yang mentah untuk menghemat elpiji, dan akhirnya justru menyebabkannya sakit, lalu pergi ke klinik untuk berobat. Jack tidak rela membayar ongkos periksa, lalu menuntut dokter membuat preseden, mengurangi waktu dan biaya pemeriksaan menjadi setengah, agar dia bisa membayar lebih murah.
Jack sering kali mencemaskan rumahnya. Istilah dalam pengobatan tradisional China mengatakan banyak berpikir dapat melukai limpa, cemas dan kuatir membuat daya hidupnya menurun. Luka limpa menyebabkan lambung rusak, oleh karena itu dia tidak bisa makan dan minum (tidak berselera).
Karena dia takut rumah mewahnya sewaktu-waktu bisa longsor membuat dia sangat gelisah, setiap hari berada dalam keadaan ketakutan, sedangkan ketakutan ini dapat melukai ginjal. Kehidupan sehari-harinya seperti burung yang terkejut mendengar desingan anak panah, lama kelamaan tertumpuk lalu menjadi penyakit. Ketika tiba di klinik, dia mendapatkan penyakit yang dia derita sudah sangat parah.
Akhirnya di bawah peringatan keras dari anggota pemadam kebakaran, dia dikeluarkan paksa dari rumah itu, lantas berdiri di luar melihat rumah mewah yang dia peroleh dengan cara menghemat segala pengeluaran ini, longsor dan porak poranda, lantas menjadi setumpuk kayu dan seonggok tanah. Jack mengutuk langit, sengsara, sedih dan murka. Beberapa hari kemudian dia “berangkat” mencari Tuhan untuk meminta “keadilan”.
Dia mengira semuanya ini adalah milik dia, sebenarnya di dalam nasibnya itu tidak ada. Apalagi segala materi yang berada di atas bumi ini selamanya bukan benar-benar milik siapapun juga.
Demikian juga halnya dengan tubuh manusia, hanya seperti sebuah baju, yang dipinjamkan kepada manusia untuk dipakai sementara, jika benar-benar akan dibawa pergi, orang tersebut harus berkultivasi. Jika tidak kultivasi, datang dan pergi dengan tangan kosong, kelak sesudah menyadari, menyesal pun akan sia-sia, semuanya sudah terlambat.
Tags: Inspirational, Motivation
SHENZEN, KOMPAS.com – Tragedi dan kecelakaan bisa terjadi kapanpun dan dimanapun. Tak ada manusia yang bisa menduganya. Seperti halnya kecelakaan yang menimpa Peng Shuilin, 37. Hidup pebisnis asal Shenzen, wilayah selatan China ini seketika berubah 360 derajat, ketika sebuah truk menghantam mobil yang dikendarainya dalam sebuah kecelakaan lalu lintas, dua tahun silam
Ia pun langsung dilarikan ke rumah sakit. Nyatanya ia harus menerima kenyataan pahit. Bagian bawah tubuhnya harus diamputasi atau ia akan meninggal. Tim dokter yang memeriksanya mewajibkannya melakukan operasi tersebut, meskipun ia akan cacat untuk selamanya.
Operasi berlangsung rumit karena tim dokter harus membenahi pula jaringan tubuh dan organ-organ dalam tubuhnya yang tersisa. Selama dua tahun ia menjalani operasi demi operasi di Rumah Sakit Bujie di Shenzen, selatan China.
Tim dokter yang menanganinya berusaha keras memperbaiki lagi seluruh organ-organ utama dalam tubuhnya. Demikian juga dengan perbaikan sistem peredaran darahnya. Bukan perkara yang mudah.
Butuh lebih dari 20 dokter ahli untuk menyelamatkan nyawanya. Ia menjalani pemindahan kulit dari kepala untuk menutup bagian perutnya yang terbuka akibat amputasi.
Beruntung, setelah dua tahun menjalani pengobatan, keajaiban muncul. Peng masih bisa bertahan hidup dan operasinya berjalan sempurna. Meski kini tubuhnya telah hilang 50 persen, namun semangatnya untuk hidup tetap membara. “Kami hanya mengharuskannya melakukan check up, mengingat ia sangat sehat dibanding pria-pria seumurannya. Ia sangat luar biasa dan merupakan satu-satunya pria yang bisa bertahan dengan keadaan separuh tubuh yang telah diamputasi,” puji Lin Liu, Wakil Direktur Rumah Sakit Bujie.
Menurut Lin Liu, Peng mendapatkan perawatan terbaik di rumah sakit. Namun satu-satunya rahasia yang bisa menyembuhkan dirinya adalah sifat riang gembira yang selalu menemani hari-harinya.
“Tak ada hal apapun yang bisa mengecilkan hatinya. Rahasianya adalah sifat riang yang dimilikinya,” imbuh Liu.
Bahkan hal ini menjadikannya sebagai contoh model bagi pasien lain yang harus menjalani amputasi seperti dirinya. Biasanya ia menjadi pembicara untuk memberikan semangat pada pasien-pasien tersebut.
Kini, setelah diamputasi, tinggi badan Peng hanya sekitar 77,5 cm. Untuk bergerak, Peng harus dibantu dengan kursi roda. Ia juga mendapatkan pelajaran tambahan agar kekurangannya bisa teratasi. Salah satunya berjalan menggunakan kaki palsu yang telah dirancang khusus oleh tim dokter.
Tak hanya itu, Peng memulai lagi kesibukannya sebagai pebisnis. Ia membuka supermarket yang diberinya nama Half Man Half Price Store atau Toko Pria Separuh Badan dengan Harga Separuh.
Tags: Inspirational, International, Motivation

Dua orang Bos ‘berlomba’ menonjolkan kebodohan sopirnya. Bos A kemudian memanggil sopirnya, “Sono, tolong beli mobil BMW seri terbaru dengan uang Rp 100 ribu ini”. “Baik Tuan”. Dengan cepat Sono berlalu.
Bos A dengan senyum kemenangan, “Tuh lihat sendiri kan betapa bodohnya sopir saya”. “Ah itu sih belum apa-apa dibanding kebodohan sopirku”, sahut Bos B. “Sunu, tolong cek apakah Bapak (Bos B) ada di rumah saat ini”. “Segera Tuan” sahut Sunu. Diapun segera berlalu. Dengan tertawa keras Bos B memandang Bos A untuk menunjukkan bahwa dialah yang menang dalam ‘pertandingan kebodohan’ ini.
Kedua sopir kemudian bertemu di jalan. Sono berkata, “Ampun deh Bosku itu sangat tolol”. “Ah kamu sih belum tahu kalau Bosku jauh lebih tolol dibanding Bosmu”, respon Sunu.
Tidak mau kalah Sono menyambung, “Bayangkan Bosku memberi uang Rp 100 ribu untuk membeli BMW seri terbaru. Mana mungkin itu ???”. “Masa Bos tidak tahu kalau hari ini hari Minggu. Mana ada show room yang buka sehingga aku bisa membeli mobil BMW seri terbaru ?”.
“Iya.. ya benar juga. Tapi dengar dulu ceritaku sebelum kamu berpikir bahwa Bosmulah yang paling bodoh”. “Masa Bosku minta tolong aku untuk mengecek apakah dia yang saat ini bersama Bosmu di sini, ada di rumah saat ini ?. Aneh sekali”. “Kan Bosku punya HP, kenapa dia tidak langsung telpon ke rumah untuk menanyakan apakah dia ada di rumah atau tidak saat ini?”.
Mungkin kita akan tersenyum lebar membaca cerita di atas sambil berpikir apakah benar ada orang sebodoh Sono dan Sunu, kedua sopir tersebut.
Dalam dunia nyata, kita sangat dekat dengan orang-orang ‘bodoh’ yang teriak ‘bodoh’ seperti kedua sopir yang mengatakan kedua Bos mereka bodoh tanpa mereka mengerti bahwa sebenarnya mereka ‘lebih bodoh’. Bahkan, tanpa bertendensi apapun, jangan-jangan kitapun termasuk kelompok ‘bodoh teriak bodoh’ ini.
Banyak orang yang terbiasa mencela orang lain terutama karena kesalahan dan kekurangan orang lain tersebut. Tidak jarang celaan itu muncul dari pikiran iri, dengki, takut kalah, dan lain-lain penyakit pikiran yang banyak menghinggapi orang jaman sekarang. Padahal setiap orang memiliki kelebihan dan kekurangan. Ada keterbatasan dalam diri setiap orang. Tidak ada yang sempurna segala-galanya. Apakah kita memiliki hak untuk mengatakan orang lain bodoh, selalu salah, jelek, dan lain-lain yang tidak baik ? Bukankah kita sendiri pasti pernah melakukan kesalahan dan ‘kebodohan’ sewaktu kita belum ’sepintar’ saat ini ?
Bos A dan B juga termasuk kelompok ‘bodoh teriak bodoh’ karena mempertandingkan kebodohan sopirnya. Mereka tidak sadar bahwa merekapun dikatakan bodoh oleh kedua sopir yang dibodoh-bodohi oleh mereka walaupun pemberian ‘cap bodoh’ oleh kedua sopir kepada kedua Bos dalam konteks yang berbeda.
Kita perlu sering ‘berkaca’ dan mengevaluasi diri untuk terus melakukan perbaikan terhadap diri sendiri baik dalam tataran pemahaman maupun perbuatan langsung melalui pikiran, ucapan dan perbuatan.
Jangan habiskan waktu kita untuk mencari-cari kesalahan dan kekurangan orang lain. Manfaatkan waktu tersebut untuk mengolah diri menjadi lebih baik dari waktu ke waktu, untuk meningkatkan pengetahuan dan keterampilan kita menjadi orang-orang yang punya daya saing tinggi untuk berkompetisi dalam dunia bisnis atau profesional, dan sosial kemasyarakatan.
Pada akhirnya kita tidak akan terperosok ke dalam kelompok ‘bodoh teriak bodoh’ dan bisa menjadi orang-orang yang ‘pintar’, yang tidak mudah memberikan klaim atau label (terutama ‘bodoh’) kepada orang lain.
Tags: Inspirational, Motivation
Kali ini, saya ingin bercerita tentang salah satu kebiasaan yang ditemui pada penduduk di sekitar kepulauan Solomon, yang letaknya di Pasifik Selatan. Nah, penduduk primitif yang tinggal di sana punya sebuah kebiasaan yang menarik yakni meneriaki pohon. Untuk apa?
Kebiasaan ini ternyata mereka lakukan apabila terdapat pohon dengan akar-akar yang sangat kuat dan sulit untuk dipotong dengan kapak.
Inilah yang mereka lakukan, jadi tujuannya supaya pohon itu mati. Caranya adalah, beberapa penduduk yang lebih kuat dan berani akan memanjat hingga ke atas pohon itu. Lalu, ketika sampai di atas pohon itu bersama dengan penduduk yang ada di bawah pohon, mereka akan berteriak sekuat-kuatnya kepada pohon itu.
Mereka lakukan teriakan berjam-jam, selama kurang lebih empat puluh hari.
Dan, apa yang terjadi sungguh menakjubkan. Pohon yang diteriaki itu perlahan-lahan daunnya akan mulai mengering. Setelah itu dahan-dahannya juga mulai akan rontok dan perlahan-lahan pohon itu akan mati dan dengan demikian, mudahlah ditumbangkan.
Kalau kita perhatikan apa yang dilakukan oleh penduduk primitif ini sungguh aneh. Namun kita bisa belajar satu hal dari mereka. Mereka telah membuktikan bahwa teriakan-teriakan yang dilakukan terhadap mahkluk hidup tertentu seperti pohon akan menyebabkan benda tersebut kehilangan rohnya.
Akibatnya, dalam waktu panjang, makhluk hidup itu akan mati. Nah, sekarang, apakah yang bisa kita pelajari dari kebiasaan penduduk primitif di kepulauan Solomon ini ? O, sangat berharga sekali! Yang perlu diingat bahwa setiap kali anda berteriak kepada mahkluk hidup tertentu, sama artinya anda sedang mematikan rohnya.
Pernahkah anda berteriak pada anak anda? “Ayo cepat! Dasar leletan. Bego banget sih. Hitungan mudah begitu aja nggak bisa dikerjakan? Ayo, jangan main-main disini. Berisik! Bising !”
Atau pernahkah anda berteriak kepada orang tua anda karena merasa mereka membuat anda jengkel? “Kenapa sih makan aja berceceran? Kenapa sih sakit sedikit aja mengeluh begitu? Kenapa sih jarak dekat aja minta diantar? Mama, tolong nggak usah cerewet, boleh nggak?”
Atau, mungkin anda pun berteriak balik kepada pasangan hidup anda karena anda merasa sakit hati? “Ih! Saya nyesal kawin dengan orang seperti kamu tahu nggak! Bodoh banget jadi laki nggak bisa apa-apa! Aduh. Perempuan kampungan banget sih!”
Atau bisa jadi ada seorang guru berteriak pada anak didiknya, “Dasar tolol. Soal mudah begitu aja nggak bisa. Kapan kamu mulai akan jadi pinter?”
Atau seorang atasan berteriak pada bawahannya saat merasa kesel, “Karyawan kayak kamu tuh kalo pergi aku tidak bakal nyesel! Ada banyak yang bisa gantikan kamu? Sial! Kerja gini aja nggak becus?”
Ingatlah! Setiap kali anda berteriak pada seseorang karena merasa jengkel, marah, terhina, terluka ingatlah dengan apa yang diajarkan oleh penduduk kepulauan Solomon ini. Mereka mengajari kita bahwa setiap kali kita mulai berteriak, kita mulai mematikan roh pada orang yang kita cintai.
Kita juga mematikan roh yang mempertautkan hubungan kita. Teriakan-teriakan, yang kita keluarkan karena emosi-emosi kita perlahan-lahan, pada akhirnya akan membunuh roh yang telah melekatkan hubungan kita.
Jadi, ketika masih ada kesempatan untuk berbicara baik-baik, cobalah untuk mendiskusikan mengenai apa yang Anda harapkan. Coba kita perhatikan dalam kehidupan kita sehari-hari. Teriakan, hanya kita berikan tatkala kita bicara dengan orang yang jauh jaraknya, bukan?
Nah, tahukah Anda mengapa orang yang marah dan emosional, mengunakan teriakan-teriakan padahal jarak mereka hanya beberapa belas centimeter. Mudah menjelaskannya. Pada realitanya, meskipun secara fisik mereka dekat tapi sebenarnya hati mereka begituuuu jauhnya. Itulah sebabnya mereka harus saling berteriak !
Selain itu, dengan berteriak, tanpa sadar mereka pun mulai berusaha melukai serta mematikan roh pada orang yang dimarahi kerena perasaan-perasaan dendam, benci atau kemarahan yang dimiliki. Kita berteriak karena kita ingin melukai, kita ingin membalas.
Jadi mulai sekarang ingatlah selalu. Jika kita tetap ingin roh pada orang yang kita sayangi tetap tumbuh, berkembang dan tidak mati, janganlah menggunakan teriakan-teriakan.
Tapi, sebaliknya apabila anda ingin segera membunuh roh pada orang lain ataupun roh pada hubungan anda, selalulah berteriak. Hanya ada 2 kemungkinan balasan yang anda akan terima. Anda akan semakin dijauhi. Atau anda juga bakal mendapatkan teriakan balik, sebagai balasannya.
Saatnya sekarang, kita coba ciptakan kehidupan yang damai, tanpa harus berteriak-teriak untuk mencapai tujuan kita. (chr)
Tags: Inspirational, Motivation